Biaya Persediaan

Biaya Persediaan

Biaya inventory sebagian merupakan biaya variabel dan sebagian lainnya merupakann biaya tetap. Biaya inventory yang bersifat variabel adalah biaya yang berubah-ubah karena adanya perubahan jumlah inventory yang ada di dalam gudang. Biaya tersebut akan naik kalau kita meningkatkan jumlah persediaan yang disimpan. Adapun jenis biaya ini antara lain dalam bentuknya biaya modal yang ditanamkan dalam persediaan tersebut, biaya asuransi persediaan, biaya atau upah buruh yang mengurusi penerimaan barang.

Biaya-Persediaan

Adapun biaya inventory yang bersifat tetap adalah elemen-elemen biaya inventory yang relatif tetap dalam jumlah totalitasnya dalam jangka pendek dengan tidak memandang adanya variasi yang normal dan jumlah persediaan yang disimpan, misalnya depresiasi/penyusutan ruangan yang digunakan, biaya pemeliharaan gudang, pajak, pemanasan, buruh penjaga gudang.

Ada 3 macam biaya yang berhubungan dengan inventory yaitu:

  1. Ordering cost (biaya pesan dan pemasaran)

Contohnya: biaya pemesanan, set up cost, biaya pengiriman dan penangannya (bongkar-muat), potongan harga karena jumlah pembelian besar.

  1. Carrying cost (biaya penyimpanan)

Contohnya: biaya gudang, asuransi, pajak kekayaan, biaya modal, penyusutan.

  1. Biaya persediaan pengaman

Contohnya: kehilangan penjualan, kehilangan kepercayaan pelanggan, gangguan jadwal produksi.

  1. Economical Order Quality

Economical order quantity (EOQ) adalah jumlah kuantitas barang yang dapat diperoleh dengan biaya yang mininmal, atau sering dikatakan sebagai jumlah pembeliaan yang optimal. Dalam menentukan besarnya jumlah pembelian yang optimal ini kita hanya memperhatikan biaya variabel dari penyediaan persediaan tersebut, baik biaya variabel yang sifat perubahannya searah dengan perubahan jumlah persediaan yang dibeli/disimpan maupun biaya variabel yang sifat perubahannya berlawanan dengan perubahan jumlah inventory tersebut.

Biaya variabel dari inventory pada prinsipnya dapat digolongkan dalam:

  1. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan frekuensi pesanan, yang kini sering dinamakan “procurement costs” atau “set-up costs”.
  2. Biaya-biaya yang berubah-ubah sesuai dengan besarnya “average inventory” yang biasa disebut “storage” atau “carrying costs”.

Cara menentukan besarnya EOQ

EOQ =

R = Jumlah (dalam unit) yang dibutuhan selama satu periode tertentu, misalnya 1 tahun.

S = Biaya pesanan setiap kali pesan.

P = Harga pembelian per unit yang dibayar.

I = Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang dinyatakan dalam persentase dari nilai rata-rata dalam rupiah dari persediaan.

Syarat utama dalam metode economical order quality (EOQ), adalah:

  1. Harga pembelian bahan per unitnya konstan.
  2. Setiap saat kita membutuhkan bahan mentah selalu tersedia di pasar.
  3. Jumlah produksi yang menggunakan bahan mentah tersebut stabil yang ini berarti kebutuhan bahan mentah tersebut relatif stabil sepanjang tahun.

Contoh soal

Biaya penyimpanan dan pemeliharaan di gudang (carrying cost) adalah 40% dari nilai average inventory. Biaya pesanan (procurement cost) adalah Rp. 15,00 setiap kali pesanan. Jumlah material yang dibutuhkan selama setahun sebanyak 1,200 unit dengan harga Rp. 1,00 per unitnya.

Jawab

EOQ = =  =  = 300 unit

Dengan demikian cara pembelian yang paling ekonomis ialah pembelian bahan sebanyak 300 unit setiap kali pesanan, yang ini berarti bahwa kebutuhan material sebanyak 1.200 unit selama 1 tahun akan dipenuhi dengan 4 kali pesanan 300 unit.

Selain menggunakan rumus diatas, kita dapat juga menetapkan besarnya EOQ berdasarkan besranya biaya penyimpanan per unit, yaitu dengan menggunakan rumus:

EOQ =

C = besarnya biaya penyimpanan per unit.

Contoh:

Jumlah material yang dibutuhkan selama setahun = 1.600 unit. Biaya pesanan sebesar Rp. 100,00 setiap kali pesanan. Biaya penyimpanan per unit = Rp. 0,50. Besarnya EOQ adalah ?

EOQ =  =  = 800 unit

  1. Reorder Point

Reorder Point adalah saat atau titik di mana harus diadakan pesanan lagi sedemikian rupa sehingga kedatangan atau penerimaan material yang dipesan itu adalah tepat pada waktu di mana persediaan di atas safety stock sama dengan nol. Dengan demikian diharapkan datangnya material yang dipesan itu tidak akan melewati waktu sehingga akan melanggar safety stock.

Dalam penentuan reorder point haruslah kita memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:

  1. Penggunaan material selama tenggang waktu mendapatkan barang (procurement leadtime).
  2. Besarnya safety stock.

Cara menentukan Reorder Point

  1. Menetapkan jumlah penggunaan selama “lead time” dan ditambah dengan persentase tertentu. Misalnya ditetapkan bahwa safety stock sebesar 50% dari penggunaan selama “lead time” dan ditetapkan bahwa “lead time”-nya adalah 5 minggu, sedangkan kebutuhan material setiap minggunya adalah 40 unit.

Reorder Point = (5 x 40) + 50% (5 x 40)

= 200 + 100

= 300 unit

  1. Dengan menetapkan penggunaan selama “lead time” dan ditambah dengan penggunaan selama periode tertentu sebagai safety stock, misalkan kebutuhan selama 4 minggu.

Reorder Point = (5 x 40) + (4 x 40)

= 200 + 160

= 360 unit

Dari contoh yang terakhir ini dapatlah dikatakan bahwa “reorder point”-nya adalah pada jumlah 360 unit, yang ini berarti bahwa pesanan harus dilakukan pada waktu jumlah persediaan tinggal 360 menit. Apabila pesanan, baru dilakukan sesudah persediaan tinggal 300 unit, maka ini berarti bahwa pada saat barang yang dipesan datang, perusahaan terpaksa sudah mengambil material dari safety stock sebesar 60 unit. Pada waktu barang yang dipesan persediaan dalam gudang tinggal 100 unit (300 – 200), padahal safety stock telah ditetapkan sebesar 160 unit. Dengan demikian safety stock di sini sudah terlanggar. Apabila pesanan sudah dilakukan pada waktu persediaan sebesar 360 unit, maka pada waktu barang yang dipesan datang, persediaan di dalam gudang masih 160 unit (yaitu 360 – 200), persis sama besarnya dengan baesranya safety stock, yang ini berarti bahwa safety stock tidak terlanggar.

Sumber: